Aku merundung langit
yang sukarela membangunkanku
dengan gemuruhnya
sebelum alarmku aktif.
Baru saja beberapa jam terlewati.
Satu hari, hari kedua.
Buat buat ulah.
Lalu ia mendung,
menahan tangis sendirian.
Sementara aku mengutuk hari.
Selasa pagi tak ada manis-manisnya;
pun tak pura-pura berupa.
Langit sudah terlanjur mendung
Lalu emosiku mblendung.
Siapa hendak membendung?
Published by
Tinggalkan komentar