Sajak Pelangi

Kumpulan sajak dan puisi dari Noor Farchan

Kopi Pahit di Angkringan Bunda

Kuseruput kopi itu
yang kupesan di satu angkringan
selepas magrib, selesai hujan.

Aku sendiri di satu meja.
Seperti biasa.
Duduk sendiri menghadap ke arah jalan ramai.
Tidak seperti biasanya.

2 kursi kosong di hadapanku;
tidak berhenti menatapku
sampai larut.
Kopi itu tak henti aku seruput.
Sembari menunggu teman yang
tak kunjung datang
sampai aku terlarut
bersama pahitnya.

Mungkin lain kali memesan kopi pahit
dan segelas teh hangat.
Mungkin lain kali kursi di Angkringan Bunda
sudah terisi penuh
oleh pemuda pemudi.

Kalau sudah begitu
terserah kau saja mau datang
atau tidak.
Toh kopinya tetap pahit.
Dan tak ada lagi kursi yang menatapku
kecuali pemudi di atasnya.
Aku tidak pernah tahu.
Setidaknya teh itu memberiku kehangatan.

Published by

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai