“kamu sudah makan?” kau bertanya
beberapa bulan lewat
dan sekarang masih lewat
terlewati
“kamu sudah makan?” kutantang balik
yang kau balas dengan tegas
sudah.
Lalu kita mulai menatap
pada papan kecil berwarna
seolah seatap
dan kini tatapan itu hanyut,
aromanya memuai
menyesakkan kepala
memenuhi ruang ruang kecil
dalam lipatan
memori yang kemarin masih tersegel
kini sudah dibayar lunas
dimiliki oleh penyamun
pembajak
sang puan di perantauan
Kalau saja dulu kamu sudah makan,
pasti pesanku dapat balasan.
Kalau sekarang kamu sudah makan,
jangan lupa
pulang.
Published by
Tinggalkan komentar